Muaro Jambi – Dalam kurun waktu 10 Agustus hingga 18 September 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi mencatat 3.223 kasus penyakit yang tersebar di 23 Puskesmas. Kasus penyakit ini disebabkan oleh kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)
Tertinggi adalah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Tercatat sebanyak 2.882 kasus, atau sekitar 89,4 persen dari total kasus yang dipantau.
Angka tersebut jauh mendominasi dibandingkan penyakit lainnya. Kasus diare tercatat 277 kasus atau 8,6 persen, sementara conjunctivitis atau gangguan pada mata mencapai 64 kasus atau 2 persen.
“Total kasus yang terpantau ada 3.223 kasus. Rinciannya, 2.882 kasus ISPA, kemudian 277 kasus diare dan 64 kasus conjunctivitis,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muaro Jambi, Aang Hambali,
Pihaknya mencatat lima wilayah layanan Puskesmas dengan kasus paling tinggi, yakni Simpang Sungai Duren, Tanjung, Penyengat Olak, Sengeti, dan Kebon IX.
Kelima Puskesmas tersebut secara keseluruhan menyumbang sekitar 44,5 persen dari seluruh kasus yang tercatat selama periode pemantauan.
Kondisi ini menjadi perhatian Dinkes Muaro Jambi, terlebih musim kemarau masih berlangsung dan potensi paparan asap akibat karhutla dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
“ISPA menjadi kasus yang paling banyak kita temukan. Ini tentu menjadi perhatian kita, terutama dalam kondisi kemarau dan adanya potensi paparan asap akibat karhutla,” ujar Aang.
Dinkes Kabupaten Muaro Jambi kini memperketat pemantauan melalui seluruh Puskesmas. Perkembangan kasus di setiap wilayah terus diperhatikan untuk melihat kemungkinan adanya peningkatan.
Aang mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap sepele gejala gangguan pernapasan yang muncul di tengah kondisi udara yang memburuk.
Batuk, pilek, sesak, maupun keluhan pernapasan lainnya diminta segera diperiksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat bisa menjaga kondisi kesehatannya. Kalau ada keluhan seperti batuk, pilek, sesak atau gangguan pernapasan lainnya, jangan dibiarkan dan segera periksakan ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegasnya.
Kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia juga diminta mendapat perhatian lebih. Ketika kualitas udara memburuk akibat asap, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus beraktivitas di luar, penggunaan pelindung seperti masker juga dianjurkan.
“Jangan menunggu kondisi menjadi berat. Kalau sudah ada keluhan kesehatan, segera datang ke Puskesmas. Pelayanan kesehatan tetap kita siapkan dan pemantauan terus dilakukan,” kata Aang.
Dinkes Muaro Jambi memastikan pemantauan akan terus dilakukan. Data dari 23 Puskesmas menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Sebab, di tengah kondisi kemarau dan ancaman karhutla yang dinamis, perubahan kualitas lingkungan juga perlu diikuti dengan kewaspadaan terhadap perubahan kondisi kesehatan masyarakat.











Komentar