MUARO JAMBI– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, kian mengkhawatirkan. Hingga 18 Oktober 2026, total luas lahan yang terbakar mencapai 635,02 hektare dalam 139 kejadian. Lahan gambut menjadi wilayah yang paling terdampak dengan luasan kebakaran mencapai ratusan hektare.
Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Muaro Jambi mencatat, dari total lahan yang terbakar, sebanyak 488,56 hektare merupakan lahan gambut. Sementara itu, kebakaran di lahan mineral mencapai 146,46 hektare.
Dominasi kebakaran di lahan gambut ini menjadi perhatian serius. Pasalnya, kebakaran di kawasan gambut berpotensi lebih sulit ditangani karena api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah permukaan tanah, sehingga menyulitkan proses pemadaman dan meningkatkan risiko munculnya kembali titik api.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Muaro Jambi, Anari Hasiholan Sitorus, mengatakan bahwa hingga pertengahan Oktober, kejadian karhutla masih menjadi persoalan yang perlu diwaspadai.
“Terhitung per 18 Oktober 2026, sudah ada 139 kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Muaro Jambi, dengan total luasan lahan yang terbakar mencapai 635,02 hektare,” kata Anari, Rabu (21/10/2026).
Menurut Anari, luas lahan gambut yang terbakar jauh lebih besar dibandingkan lahan mineral. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kawasan gambut menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak karhutla di Muaro Jambi.
Persoalan ini semakin menjadi perhatian lantaran mayoritas lahan yang terbakar merupakan milik masyarakat. Artinya, dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas dan penghidupan warga yang bergantung pada lahan tersebut.
“Karhutla ini tersebar di hampir seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Muaro Jambi. Mayoritas lahan yang terbakar merupakan lahan masyarakat,”katanya.
Karhutla di Muaro Jambi mulai terdeteksi sejak Maret 2026. Setelah sempat kembali muncul pada Juli, kebakaran terus terjadi hingga Oktober.
Rentang kejadian selama beberapa bulan tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman karhutla di Muaro Jambi belum sepenuhnya berakhir. Terlebih, luas lahan yang terbakar telah mencapai lebih dari 635 hektare, dengan hampir 77 persen di antaranya merupakan lahan gambut.
Hingga Rabu ini status penanganan karhutla di Kabupaten Muaro Jambi masih berada pada level Siaga Karhutla.
“Karhutla ini mulai terjadi sejak Maret. Kemudian muncul lagi pada Juli sampai dengan Oktober ini. Status saat ini masih Siaga Karhutla,”tegasnya.











Komentar