KOTA JAMBI – Kemarau panjang yang melanda Kota Jambi mulai berdampak serius terhadap aktivitas pertanian jagung. Keterbatasan air membuat petani menunda masa tanam, sementara sebagian tanaman yang sudah ditanam mengalami gagal panen dan pertumbuhan tidak maksimal.
Dari total 53 hektare lahan yang disiapkan untuk budidaya jagung, baru 15 hektare yang telah ditanami. Selebihnya masih belum digarap karena petani menunggu kondisi cuaca dan ketersediaan air yang lebih mendukung.
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Jambi, Amiruddin mengatakan dampak kemarau terhadap pertanian tahun ini cukup besar. Kondisi tersebut memaksa petani menyesuaikan jadwal tanam untuk menghindari kerugian yang lebih besar.
Dari 15 hektare lahan yang sudah ditanami, sekitar 5 hektare dilaporkan mengalami gagal panen. Sementara itu, tanaman di lahan lainnya juga tidak tumbuh optimal sehingga hasil panen diperkirakan berkurang.
“Memang dampak kemarau ini sangat luar biasa dan petani kita menunda tanam,”kata Amiruddin.
Penundaan penanaman menjadi langkah yang ditempuh petani untuk mengurangi risiko benih tidak tumbuh atau tanaman mati akibat kekurangan air. Dalam kondisi tanah yang terlalu kering, pertumbuhan jagung dapat terganggu, terutama pada fase awal setelah penanaman.
Situasi ini membuat petani harus mempertimbangkan waktu tanam secara lebih cermat. Memulai penanaman tanpa dukungan air yang cukup berisiko menambah biaya produksi tanpa diikuti hasil panen yang sebanding.
Dampak kemarau tersebut menjadi tantangan bagi pengembangan budidaya jagung di Kota Jambi. Jika kondisi kering berlangsung lebih lama, produktivitas tanaman berpotensi semakin tertekan dan jadwal tanam petani dapat kembali mundur.
Petani berharap kondisi cuaca segera membaik agar penanaman dapat dilanjutkan dan risiko kerugian akibat kekeringan bisa ditekan.











Komentar