KOTA JAMBI – Persoalan stunting masih menjadi perhatian Pemerintah Kota Jambi. Berdasarkan data Agustus 2026, sebanyak 362 anak di Kota Jambi terdeteksi mengalami stunting.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Jambi, Misman mengatakan data tersebut bersumber dari Dinas Kesehatan Kota Jambi.
Dari sekitar 18 ribu sasaran yang telah menjalani pemeriksaan, ditemukan 362 anak yang masuk kategori stunting. Jumlah tersebut setara dengan 1,91 persen berdasarkan data Agustus 2026.
“Itu ada 1,91 persen dari data Agustus 2026,” kata Misman belum lama ini.
Menurut Misman, masih ditemukannya kasus stunting menunjukkan penanganan terhadap persoalan tersebut perlu terus dilakukan. DPPKB bersama instansi terkait akan berupaya menangani anak-anak yang telah teridentifikasi mengalami stunting.
“Karena masih ada stunting, kami punya tugas untuk menyelesaikannya bersama pihak-pihak terkait,” ujarnya.
Selain 362 anak yang telah teridentifikasi mengalami stunting, pemerintah juga memberikan perhatian terhadap kelompok yang masuk dalam kategori berisiko.
Lebih dari 92 ribu sasaran yang masuk dalam pendataan risiko stunting, terdapat 10 ribu lebih yang terindikasi berisiko mengalami stunting.
Ia menjelaskan, masuk dalam kategori berisiko tidak berarti seseorang sudah mengalami stunting. Penentuan risiko dilakukan berdasarkan sejumlah variabel yang menjadi indikator dalam pendataan.
“Ada beberapa variabel untuk mengetahui apakah masuk stunting atau tidak. Itu dilihat dari usia kehamilan, usia saat hamil dan lainnya,”katanya.
Data kelompok berisiko tersebut tersebar di 11 kecamatan di Kota Jambi. Kecamatan Alam Barajo menjadi wilayah dengan jumlah risiko stunting tertinggi.
Misman mengatakan tingginya jumlah tersebut salah satunya berkaitan dengan jumlah penduduk Kecamatan Alam Barajo yang relatif lebih besar dibandingkan sejumlah kecamatan lainnya.
“Nomor satu di wilayah Kecamatan Alam Barajo, karena mereka banyak jumlah penduduk sehingga nomor satu di sana,”ujarnya.











Komentar