Jambi – Kinerja ekspor batu bara asal Provinsi Jambi mengalami penurunan sangat tajam sepanjang Januari hingga Juli 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, nilai ekspor batu bara hanya mencapai US$6,45 juta, turun 82,58 persen dibanding periode yang sama tahun 2025 yang mencapai sekitar US$37 juta.
Data tersebut tercantum dalam perkembangan ekspor dan impor Provinsi Jambi Juli 2026 yang dirilis BPS.
Kepala BPS Provinsi Jambi Aidil Adha mengatakan, penurunan komoditas batu bara menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja kelompok pertambangan Jambi.
“Secara kumulatif sektor pertanian mengalami penurunan signifikan, utamanya pertanian kelapa, diikuti penurunan sektor pertambangan yakni batubara, sedangkan sektor industri pengolahan mengalami kenaikan,” kata Aidil dalam penyampaian rilis perkembangan ekonomi Jambi.
Pada Juli 2026, ekspor batu bara Jambi tercatat sebesar US$361.033,26. Angka tersebut menjadi catatan penting karena pada Juni 2026 tidak terdapat nilai ekspor batu bara dalam tabel BPS.
Jika dibandingkan secara kumulatif, nilainya terlihat jauh lebih rendah. Pada Januari-Juli 2025, ekspor batu bara Jambi mencapai US$37,00 juta, sedangkan Januari-Juli 2026 hanya US$6,45 juta. Artinya, terjadi penurunan sekitar US$30,56 juta atau 82,58 persen dalam satu tahun.
Sektor Pertambangan Masih Menjadi Penopang Ekspor. Penurunan batu bara tersebut terjadi ketika kelompok pertambangan secara keseluruhan juga mengalami tekanan.
BPS mencatat nilai ekspor kelompok pertambangan pada Juli 2026 sebesar US$76,44 juta, turun 14,08 persen dibanding Juni 2026 yang mencapai US$88,96 juta.
Dalam struktur ekspor Jambi Januari-Juli 2026, kelompok pertambangan masih memberikan kontribusi besar, yakni 44,90 persen dari total ekspor.
Namun, secara kumulatif nilai ekspor kelompok pertambangan turun 9,55 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi komoditas minyak dan gas serta batu bara.
Dari tabel BPS, komoditas minyak dan gas masih mendominasi sektor pertambangan dengan nilai ekspor Januari-Juli 2026 sebesar US$534,02 juta dan kontribusi 44,36 persen terhadap total ekspor Jambi.
Sementara batu bara hanya menyumbang 0,54 persen terhadap total ekspor Jambi Januari-Juli 2026.
Ekspor Jambi Secara Keseluruhan Ikut Turun
Secara keseluruhan, nilai ekspor asal Provinsi Jambi pada Juli 2026 tercatat US$181,87 juta. Angka ini turun 4,67 persen dibanding Juni 2026 yang mencapai US$190,78 juta.
Secara kumulatif Januari-Juli 2026, total ekspor Jambi mencapai US$1,20 miliar, turun 2,22 persen dibanding periode yang sama 2025 sebesar US$1,23 miliar.
Struktur ekspor Jambi masih ditopang tiga kelompok utama. Industri memberikan kontribusi terbesar sebesar 50,74 persen, disusul pertambangan 44,90 persen, dan pertanian 4,36 persen.
Di tengah tekanan batu bara dan sektor pertambangan, industri pengolahan justru menunjukkan pertumbuhan. Nilai ekspor kelompok industri pada Januari-Juli 2026 mencapai US$610,83 juta, naik 12,49 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara sektor pertanian mengalami penurunan 42,02 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa struktur ekspor Jambi masih sangat bergantung pada sektor berbasis sumber daya alam, terutama minyak dan gas, sementara kontribusi batu bara terhadap total ekspor relatif kecil meski mengalami penurunan yang sangat dalam secara tahunan.
Lima negara tujuan ekspor terbesar Jambi pada Juli 2026 adalah Singapura, Malaysia, Jepang, India, dan Amerika Serikat. Singapura menjadi tujuan terbesar dengan porsi 43,53 persen dari total ekspor Januari-Juli 2026, terutama untuk komoditas bahan bakar mineral.
Sementara itu, tiga negara tujuan utama—Singapura, Malaysia, dan Jepang—secara bersama-sama menyerap sekitar 68,99 persen ekspor Jambi.Dengan demikian, meski batu bara bukan komoditas dengan kontribusi terbesar dalam struktur ekspor Jambi, penurunan hingga 82,58 persen secara kumulatif menjadi salah satu sinyal melemahnya kinerja komoditas pertambangan daerah sepanjang 2026.











Komentar