JAMBI – Ratusan titik api (Hotspot) masih terpantau di Jambi dan terbanyak terdapat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Ini memicu kondisi udara yang tidak sehat bahkan memburuk dengan angka Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) lebih dari 200.
Al Haris mengatakan, sedikitnya tujuh titik api masih dalam penanganan tim Satgas Karhutla. Petugas terus melakukan pemadaman sekaligus pendinginan untuk mencegah api kembali muncul dan meluas.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara di Jambi saat ini mulai memburuk. Indeks kualitas udara berada di kisaran 100-an dan masuk kategori tidak sehat.
Kondisi tersebut juga berdampak pada aktivitas pendidikan. Pemerintah Provinsi Jambi meliburkan sementara kegiatan sekolah dari berbagai jenjang sambil menunggu kondisi cuaca dan kualitas udara membaik.
Menurut Al Haris, hujan yang turun di wilayah Tanjung Jabung Timur memberikan dampak positif terhadap penanganan karhutla.
Pemerintah Provinsi Jambi juga menyiapkan pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) mulai 1 hingga 4 Oktober 2026. Langkah tersebut dilakukan dengan memanfaatkan potensi pertumbuhan awan yang diperkirakan mulai meningkat.
Selain TMC, operasi pemadaman menggunakan helikopter water bombing juga akan kembali dilakukan apabila kondisi jarak pandang atau visibility memungkinkan.
Titik kebakaran saat ini antara lain terpantau di wilayah Berbak, Tanjung Jabung Timur, kawasan Taman Nasional Berbak dan Sembilang (TNBS), Muaro Jambi, serta sejumlah wilayah lainnya.
Untuk mendukung penanganan di lapangan, Satgas Karhutla juga telah menambah personel dan peralatan. Sekitar 20 personel tambahan telah dikirim, disertai peralatan pemadaman termasuk pompa.
Sementara itu, alat berat yang dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla mencapai lebih dari 15 unit, kemudian ditambah tiga unit sehingga totalnya sekitar 18 unit.
Al Haris memastikan seluruh tim Satgas yang berada di titik-titik kebakaran masih dalam kondisi siap dan terus melakukan penanganan.
Khusus karhutla di kawasan TNBS, upaya pemadaman menghadapi tantangan medan yang sulit. Kawasan tersebut merupakan belantara yang luas dengan akses menuju lokasi kebakaran terbatas.
Tebalnya asap juga menyulitkan operasi pemadaman menggunakan helikopter water bombing.
Al Haris menyebut kebakaran saat ini lebih banyak terjadi di kawasan gambut. Sementara itu, kawasan hutan utama yang menjadi habitat satwa seperti harimau dan gajah disebut belum terdampak secara langsung oleh kebakaran.
Pemerintah memastikan kondisi personel Satgas yang bertugas di lapangan masih sehat. Tim kesehatan juga disiagakan untuk memantau kondisi petugas selama penanganan karhutla berlangsung.
Pemerintah berharap hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah serta pelaksanaan TMC dapat membantu mengurangi titik api dan memperbaiki kualitas udara di Jambi.











Komentar